|
MENYELAMATKAN GENERASI Tak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan generasi yang ada. Sistem pendidikan harus berorientasi pada produktifitas dan kreatifitas, yaitu menghasilkan siswa yang mampu membuat dan menciptakan produk. Bukan sekedar lulusan siap kerja, namun siswa yang masih disekolah itu harus sudah menghasilkan produk. Bukan mencetak pencari kerja, melainkan pencipta kerja. Sistem pendidikan cina komunis berhasil memberdayakan narapidana untuk menghasilkan produk yang membanjiri pasar dunia dengan harga murah yang tidak masuk akal sehingga Amerika terpaksa melawannya dengan embargo dan menggunakan senjata isu Hak Azasi manusia.
MENYELAMATKAN GENERASI Tak ada pilihan lain kecuali menyelamatkan generasi yang ada. Sistem pendidikan harus berorientasi pada produktifitas dan kreatifitas, yaitu menghasilkan siswa yang mampu membuat dan menciptakan produk. Bukan sekedar lulusan siap kerja, namun siswa yang masih disekolah itu harus sudah menghasilkan produk. Bukan mencetak pencari kerja, melainkan pencipta kerja. Sistem pendidikan cina komunis berhasil memberdayakan narapidana untuk menghasilkan produk yang membanjiri pasar dunia dengan harga murah yang tidak masuk akal sehingga Amerika terpaksa melawannya dengan embargo dan menggunakan senjata isu Hak Azasi manusia. Kekuatan ekonomi cina jelas nampak pada kekuatan SDMnya yang produktif, kreatif dan efisien. Kekuatan ini juga nampak pada bangsa India yang masuk pada pendidikan untuk produk berteknologi tinggi seperti IT, telekomunikasi dan industri baja. Ciri yang nampak pada bangsa bangsa miskin yang sedang bergerak cepat untuk maju ini adalah pada pembangunan semangat produktifitas dan kreatifitas. Sistem pendidikan sudah dijuruskan sama sekali pada kemampuan berproduksi, teori dari pelajaran yang diberikan dibangku sekolah dibuat sepraktis mungkin agar cepat dicerna dan dapat dimanfaatkan. KECEPATAN, KETEPATAN DAN EFISIENSI. Kata kata Produktifitas, kualitas dan efisiensi kerja tidak dikenal oleh siswa sekolah dasar sampai perguruan tinggi, guru dan dosen bahkan staff dan pekerja Industripun tidak mengenalnya, pedahal ini merupakan roh, nilai dan isi dari pekerjaan itu sendiri. Namun dengan menggantikannya dengan kata kecepatan, ketepatan dan penghematan dalam membuat produk maka siswa tingkat sekolah dasarpun akan dapat mengaplikasikan teori kerja. Hanya sekedar bisa bekerja tidaklah cukup, tuntutan pekerjaan adalah pada kecepatan, ketepatan dan biayanya. Tanpa ketiga hal tersebut maka hasil kerja dan nilainya menjadi rendah, bila dalam bentuk produk akan mahal dan berkualitas rendah. Proses membuatnya lama, tidak sesuai dengan kualitas yang diminta, biayanya mahal. Para lulusan sekolah ketrampilan Indonesia hanya baru sebatas bisa saja, menjalankan mesin bisa, menulis bisa, menggambar juga bisa, tetapi hasilnya selalu kalah dengan pesaing yang lebih cepat, tepat dan murah biayanya. Sekarang Pemerintah sedang berusaha merubah SMU menjadi SMK untuk mengejar ketertinggalan dalam ketrampilan kerja dengan bangsa lain. Selama ini ternyata siswa hanya diajar ketrampilan baca, tulis, hitung, gambar dan hapalan tanpa diajarkan bagaimana mewujudkan apa yang dibaca, ditulis, dihitung, digambar dan dihapalkan. Disemua pekerjaan terdapat kegiatan membaca instruksi kerja, menulis rencana kerja, membuat gambarnya, menghitung biaya dan ukurannya serta menghapalkan cara kerjanya. Tenaga trampil adalah mereka yang hapal diluar kepala prosedur kerjanya sehingga sekalipun tanpa berpikir gerakan mereka akan tepat. Ahli konstruksi yang membangun bangunan, ahli listrik yang memasang instalasi dan ahli komputer yang membuat design sistem, semua bekerja dengan menggunakan hapalan. Makin hapal makin cepat dan tepat, bahkan sekalipun dengan menutup mata dapat dilakukan dengan baik. Mulanya harus lebih dulu membaca, menulis, menghitung, dan menggambarnya diatas kertas. Prinsip kecepatan, ketepatan dan efisiensi inilah yang menciptaan daya saing sebab akan menurunan biaya produksi sehingga dapat mewujudkan produk yang bagus dan murah. Proses sederhana ini diluar pengamatan para pakar pendidikan yang terlalu tinggi menggunakan imajinasinya karena terlalu banyak buku yang dibaca, makalah yang ditulis, terlalu rumit yang dihitung dam terlalu abstrak yang digambar sehingga tidak nampak wujudnya. Seorang pembantu tukang kayu hanya perlu 6 bulan untuk dapat membangun rumah kayu bila dia bekerja dengan dipimpin dan diarahkan tukang yang ahli dan melakukan semua jenis pekerjaan untuk membuat sebuah rumah kayu. Tidak heran ada Sarjana Hukum berubah menjadi tukang kayu, Sarjana Akuntan menjadi Ahli bangunan, sarjana sastra bekerja dibidang IT. Ini terjadi karena ketrampilan itu diperoleh jauh lebih cepat dan singkat dibanding masa kuliahnya diperguruan tinggi. Akhirnya kehidupannya bukan dari Ilmu yang diperoleh dikampus melainkan dari ketrampilan singkat itulah dia hidup dan menjadi sukses. MELATIH TANGAN, KAKI DAN PANCA INDERA. KADIN UMKM Divisi Pendidikan dan Pelatihan SDM segera menjalin kerjasama dengan beberapa sekolah tingkat dasar sampai menengah untuk melakukan Riset dan pengembangan SDM dengan membangun produktifitas dan kreatifitas siswa melalui Sistem Diklat yang memberi kemampuan siswa memanfaatkan ketrampilan baca, tulis, hitung, gambar dan hapalannya untuk membuat produk barang atau jasa. Waktu yang digunakan untuk Diklat adalah hari Sabtu atau minggu agar tidak mengurangi jam pelajaran yang ada. Siswa dituntun, diarahkan dan digerakkan secara sistimatis dalam bentuk unit kerja produktif untuk memberdayakan diri mereka. Dengan unit sistem sebanyak 5 orang dimana 1 orang menjadi team leader dan 4 lainnya menjadi anggotanya mirip regu pasukan tentara dimedan perang yang dipimpin oleh kepala regu. Regu ini dapat dirakit dengan regu yang lain dalam jumlah kelipatan 5, 10, 20 sampai 100 orang yang selalu memunculkan seorang pemimpin. Ini merupakan proses bagaimana industri dimulai dari kecil sampai besar dan pada proses ini pula tercetak pemimpin profesional. |