|
Solusi Bisnis : Rheinald Kasali
“Sesuatu yang sederhana akan menjadi berharga dan mahal jika seseorang cukup jeli menangkapnya,”

Seseorang yang punya kemampuan bisnis tak harus memiliki entrepreneurship DNA atau berketurunan pengusaha. Seperti ditulis Rheinald Kasali dalam bukunya, Wirausaha Muda Mandiri, desebutkan bahwa orang Padang jago berdagang, atau orang Cina pandai berbisnis, semua itu hanya mitos belaka. Sebab semua orang sangat besar kemungkinannya bisa berbisnis.
Kreatif Caranya harus banyak belajar, menambah wawasan atau pengetahuan bisnis, kerap bergaul dengan seorang pengusaha yang sukses, beretika dan bekerja keras. Dalam kehidupan sehari-hari harus menjadi seorang yang kreatif. Sebab dengan banyak menemukan ide sesuatu yang baru akan membuka pola pikirannya makin maju. Seperti kata John C Maxwell, “Untuk menjadi seorang entrepreneur, bakat saja tidak cukup. Semua baru menjadi potensi, dan setiap potensi perlu menemukan pintunya.
Kekuatan insting Untuk meraih cita-cita seorang entrepreneur butuh sesuatu kekuatan dalam dirinya. Ini pengalaman sukses yang diraih Firmansyah Budi Prasetyo, pemilik Tela Krezz asal Yogyakarta. Ia berhasil menaikkan gengsi snack singkong menjadi sama dengan French fries berkat kekuatan insting bisnisnya. Kunci sukses kekuatan insting bisnisnya ini yang membuat dirinya mampu mengerjakan hal-hal yang sebenarnya sudah dikenali sejak kecil.
Struktur biaya Dalam bukunya Rheinald Kasali menyebutkan dalam berwirausaha harus pandai mengelola keuangan. Dalam menyusun struktur biaya, dari awal sudah memiliki prinsip bisnis; efisien biaya dengan mengurangi pengeluaran dan menambah pemasukan. Dengan pola pikir seperti ini, usahanya yang dijalankan akan selalu menghitung keuntungan.
Tekhnologi Informasi Usaha yang dirintis selalu butuh informasi. Terutama informasi dari media online yang saat ini bisa di akses lewat handphone. Melihat situasi perkembangan bisnis yang dibutuhkan untuk referensi. Sebab dengan tekhnologi informasi, setiap orang bisa memasarkan produknya, melihat kondisi pasar, sehingga informasi yang diperoleh bisa dikelola dan dijadikan strategi usaha.
Brand Merk Brand memberikan kekuatan pada produk yang dipasarkan. Brand bisa bergerak sendiri jika pemilik perusahaan mau mempublikasikan. Jadi brand adalah merek yang menunjukkan karakter bisnis pengelolanya. Seandainya pengelola perusahaan tak mampu menjaga citra perusahaannya, maka brand produk yang dipasarkan pun jadi buruk. Dan produk yang sudah dipasarkan akan menurun penjualannya.
Ketidak pastian Dalam berbisnis harus siap menghadapi ketidakpastian. Jika dalam bisnis itu pengelola perusahaan (pemilik) selalu menargetkan penjualan. Saat awal usahanya bisa berjalan kurang baik ( tak mencapai taget ), lalu berkat kerja keras pengelola dalam mempromosikan usahanya, langsung naik menjadi baik ( sesuai target ), tapi satu hari atau dua hari kemudian, bisnisnya bisa turun lagi gara-gara kalah dalam persaingan pasar. Jasi dalam bisnis itu selalu terjadi ketidak pastian.
|