You are here > Home Laporan Utama Edisi 2011 Februari Lulur dan Timung Hafabi - Kosmetik Tradisional Khas Kalimantan
Tue 29 Jul 2014
Lulur dan Timung Hafabi - Kosmetik Tradisional Khas Kalimantan

SIKAP GIGIH BERUSAHA DAN MAU BEKERJA KERAS ADALAH MODAL MUTLAK YANG DIPERLUKAN UNTUK MERAIH KESUKSESAN DALAM BERWIRAUSAHA. ETOS INILAH YANG DITERAPKAN HJ ROBE’AH KETIKA MERINTIS USAHA KOSMETIK DI KOTA BANJARMASIN, KALIMANTAN SELATAN.

Tanpa kenal lelah dan putus asa, Robe’ah memperkenalkan lulur hasil buatannya ke took dan salon kecantikan. Setelah jatuh bangun, kini ia bisa tersenyum lantaran usaha yang yang dirintisnya sejak tahun 1988 menuai hasil. Lulur yang ia produksi laris manis tak hanya di Banjarmasin melainkan juga merambah ke kota lain seperti Surabaya, Jakarta, dan Bali.

Usahanya juga berkembang pesat. Dari hanya memproduksi lulur, Robeah juga membuat timung. Bahkan rumahnya yang terletak di kawasan Kayutangi, Banjarmasin disulap salon kecantikan yang menyediakan fasilitas lulur dan timung khusus bagi kaum hawa. Tersedia beberapa kamar yang didesain untuk perawatan kecantikan tradisional khas banjar dan modern ala Arabian.

Mereka yang datang dapat memilih perawatan tubuh yang diinginkan. Yang tergolong unik adalah timung yaitu perawan tradisional asli Kalimantan dengan system penguapan atau steam. Bentuknya seperti ramuan yang terbuat dari bahan alami dan tradisional.

Setiap orang yang menggunakan timung akan merasakan nikmat aroma campuran ramuan tradisional dari akar, kulit kayu, dan dedaunnanyang menyergap hidung. Sejurus kemudian uap reramuan itu akan mulai membasahi seluruh tubuh. Rasa hangat atau sedikit panas bagi sebagian orang seolah merasuki pori-pori kulit.

Pada tahap selanjutnya, sekujur tubuh akan basah kuyup oleh uap ramuan beraroma sedap itu. Sensasi itu menjalari tubuh selama 10 sampai 15 menit. Manfaat yang diperoleh, tubuh akan terasa segar dan beraroma sedap. Bahkan sampai sekitar setengah jam, masih bisa dirasakan bagaimana ramuan itu merasuk ke dalam pori-pori.

Ditemui di rumah sekaligus tempat produksi lulur dan salon kecantikan. Robe’ah menceritakan pengalamannya memulai usaha. Berawal uang sebesar Rp100 ribu, ia membuat lulur yang dijajakan di beberapa took dan salon.

“Uang itu saya gunakan sebagai modal untuk membuat lulur. Dari uang itu saya berhasil membuat sekitar 5 kilogram atau setara dengan 5 lusin lulur dengan berat sekitar 25 gram per bungkusnya dan saya jual seharga Rp250,”kenang Robe’ah.

Lulur itu, lanjutnya, ditawarkan ke took-toko kosmetik. Tapi banyak yang menolak dikarenakan produk yang dijual Robe’ah belum dikenal luas sehingga pemilik toko enggan menaggung resiko rugi. Kualitas lulur yang dijual Robe’ah juga sempat diperanyakan, apakah tergolong sehat dan aman.

“Akibatnya lulur saya banyak yang tidak laku. Tapi saya pantang menyerah dan putus asa. Apalagi saat itu dukungan suami amat besar untuk terus menjual lulur. Pola penjualan saya ubah yaitu ditujukan ke salon-salon kecantikan. Ternyata responnya bagus dan mereka banyak memesan,”ujar ibu tiga anak ini.

Metode ini ternyata ampuh. Pelanggan salon merasakan hal yang berbeda saat menggunakan lulur Robe’ah, yaitu lebih bersih dan lebih wangi. Informasi ini terus meluas dan berkembang dari satu pelnggan salon ke pelanggan lainnya. Ibarat virus, lulur Robe’ah sudah menyebar ke seluruh pelanggan salon.

“Lulur saya langsung digemari ibu-ibu dan remaja putrid. Menurut mereka lulur buatan saya lebih halus dan skrapnya lebih banyak sehingga mampu mengangkat kotoran lebih banyak. Buktinya lulur yang tadinya berwarna putih berubah menjadi hitam setelah digunakan di tubuh,”jelas peremuan yang telah menunaikan ibadah haji ini. Dengan menggunakan merek dagang ‘Hafabi’kini Robe’ah mampu memproduksi sebanyak 500 kilogram lulur per hari. Harga per bungkus lulur yang berisi 16 gram dibandrol sebesar Rp1000.

5 GENERASI

Untuk membantu usahanya, Robe’ah dibantu 10 orang karyawan yang juga merankap petugas salon kecantikan. Ia juga dibantu beberapa orang tenaga pemasaran yang bertugas untuk menjual lulur ke sejumlah toko dan salon di wilayah Banjarmasin dan sekitarnya. Dulu semuanyaia kerjakan sendiri. Mulai dari membuat hingga menjualnya.

“Karena memang saya punya kemampuan membuat lulur yang diperoleh dari ibu. Dari dia, saya belajar meracik dan meramu bahan-bahan alami untuk dibuat lulur. Ternyata ibu saya juga belajar dari nenek. Jadi sudah turun menurun keluarga saya punya keahlian membuat lulur. Jika dirunut sudah lima generasi keahlian ini diwariskan ,”ingkapnya bangga.

Atas dasar itu, tandas dia, keinginan berwirausaha tumbuh. Tujuan utamanya, ingin membantu meningkatkan pendapatan keluarga. Sebab saat itu suami saya hanya seorang guru honorer dan dia sedang hamil anak pertama.

“Saya berpikir kebutuhan keluarga pasti terus meningkat. Dan saya tidak mau hanya mengandalkan gaji suaminya karenanya saya ingin membuka usaha. Tekad ini semakin kuat setelah ada dukungan dari suami,”tegas perempuan berusia 45 tahun ini.

Berbekal keahlian dan restu suami, Robe’ah giat merintis usaha. Banyak rintangan berhasil ia lampaui. Usahanya pun makin lancer. Pasanan lulur terus berdatangan. Ia seringkali diajak mengikuti pameran dari pemda Kalimantan Selatan. Lewat event ini, Robe’ah merasakan banyak manfaatnya. Di samping keuntungan, relasi bisnis juga terjalin. Itulah sebabnya produk lulur Hafabi miliknya mampu merambah ke luar kota Banjarmasin.

BANTUAN JASA RAHARJA

Namun kendala dalam berusaha pasti ada diantaranya kesulitan modal. Banyaknya pesanan lulur tidak diiringi dengan ketersediaan modal yang dimiliki. Untuk mengatasinya, Robe’ah meminjam modal dari bank tapi ia merasa keberatan dengan bunga yang tinggi. Akhirnya setelah pinjaman lunas, ia bertekad tidak akan meminjam modal dari bank lagi.

Sebagai penggantinya,Robe’ah mengajukan diri menjadi mitra binaan Jasa Raharja. Alasannya, bunga pinjaman yang diberikan relative lebih rendah. Manfaat lainnya, berupa pembinaan usaha melalui kegiatan pelatihan maupun diikusertakan dalam pameran.

“Saya bersyukur bisa memperoleh pinjaman dari Jas Raharja. Awalnya saya dapat informasi dari dinas koperasi pemda Kalsel. Sekitar tahun 2004 saya memberanikan diri mengajukan proposal pengembangan usaha kepada Jasa Raharja. Alhamdulillah disetujui,”ungkap Robe’ah sumringah.

Saat itu, usaha kosmetik lulur Hafabi Robe’ah mendapat suntikan bantuan modal kerja sebesar Rp15 juta. Uang itu ia gunakan untuk membeli bahan baku lulur dan menambah mesin untuk meningkatkan kapasitas produksi. Hingga sekarang, Robe’ah tercatat tiga kali mengajukan pinjaman modal kerja. Di tahun 2003, sebesar Rp15 juta. Dua tahun berselang naik menjadi Rp20 juta dan pada tahun 2007 mendapat pinjaman sebesar Rp25 juta.

“Karena tergolong mitra binaan yang tepat mencicil pinjaman maka setiap mengajukan permohonan pinjaman modal langsung disetujui Jasa Raharja. Semua modal itu saya gunakan untuk pengembangan usaha. Termasuk saat saya membuat salon kecantikan yang disebut Rumah Timung Tradisional Hafabi,”

Robe’ah menyiasatinya juga melakukan promosi dengan beriklan di media massa local. Sebab promosi merupakan upaya efektif untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat luas.

Tapi ada kekhawatiran di benak Robe’ah. Produk kosmetik asing mulai membanjiri pasaran dalam negeri. Padahal produk itu belum tentu aman dan mengandung bahan kimiawi. Ia berharap, produk kosmetik local diperhatikan pemerintah. Selain melindungi warisan leluhur bangsa, ekonomi rakyat juga akan tumbuh.

 

KAMAR DAGANG INDUK USAHA MIKRO KECIL MENENGAH
[ K A D I N U M K M ]

Jl. Bung Tomo 8A - Surabaya
Telp. (031) 501 5264, Fax. (031) 501 5276
- Best Viewed In 1280 x 1024 Resolution Using Firefox -